ETU
Sumber: GenPI.co
1.
Di kampung kami, bila musim panas tiba, bukan hanya bunga-bunga saja yang tanggal, bukan hanya daun-daun saja yang ranggas. Bisa saja darahmu yang muncrat. Bisa saja tulangmu yang retak. Di sana akan terjadi sebuah perseteruan paling jantan, dua lelaki saling berserobok, diikuti beberapa orang yang menuntunmu maju atau mundur, sambil orang-orang di sekitarmu bersorak-sorai mengelu-elukan namamu. Meriah-risau orang yang menonton kau. Peo yang berdiri perkasa di tengah-tengah gelanggang itu, mendecakkan kagum paling adam. Ine-ine yang mengenal kau akan melarangmu keras dan bahkan lebih menyiram kau dengan kata-kata makian jika kau mengelak, karena kau merasa kelaki-lakianmu bisa saja diukur dari situ. Kau akan dikenal orang-orang sekampung jika kau mengayun tepat kepo yang kau erat amat-amat. Tapi bukan itu yang dilihat.
2.
Sakit memang jika kepo itu tepat sasaran. Tetua-tetua adat biasa meraciki kepo pakai kulit kaba atau bahkan pakai tanduk paling lancip. Kepo itu selalu mencuatkan api. Semakin fisikmu dibakar, semakin pula jiwamu membara. Itu makanya, orang-orang pada candu dengan etu. Sekali dicoba maunya tambah lagi.
3.
Sangkamu setelah wajah itu biru membelau dan merah merona, sayatan-sayatan dendam akan menyala? Mereka akan menjadi sahabat paling edan, bung. Tiada luka dan petaka yang merekah.
2019
Di kampung kami, bila musim panas tiba, bukan hanya bunga-bunga saja yang tanggal, bukan hanya daun-daun saja yang ranggas. Bisa saja darahmu yang muncrat. Bisa saja tulangmu yang retak. Di sana akan terjadi sebuah perseteruan paling jantan, dua lelaki saling berserobok, diikuti beberapa orang yang menuntunmu maju atau mundur, sambil orang-orang di sekitarmu bersorak-sorai mengelu-elukan namamu. Meriah-risau orang yang menonton kau. Peo yang berdiri perkasa di tengah-tengah gelanggang itu, mendecakkan kagum paling adam. Ine-ine yang mengenal kau akan melarangmu keras dan bahkan lebih menyiram kau dengan kata-kata makian jika kau mengelak, karena kau merasa kelaki-lakianmu bisa saja diukur dari situ. Kau akan dikenal orang-orang sekampung jika kau mengayun tepat kepo yang kau erat amat-amat. Tapi bukan itu yang dilihat.
2.
Sakit memang jika kepo itu tepat sasaran. Tetua-tetua adat biasa meraciki kepo pakai kulit kaba atau bahkan pakai tanduk paling lancip. Kepo itu selalu mencuatkan api. Semakin fisikmu dibakar, semakin pula jiwamu membara. Itu makanya, orang-orang pada candu dengan etu. Sekali dicoba maunya tambah lagi.
3.
Sangkamu setelah wajah itu biru membelau dan merah merona, sayatan-sayatan dendam akan menyala? Mereka akan menjadi sahabat paling edan, bung. Tiada luka dan petaka yang merekah.
2019
Ket:
Etu: sebuah tinju tradisional yang berasal dari masyarakat Nagekeo dan Soa. Biasanya dilakukan pada bulan juni dan juli.
Kepo: alat tinju yang dibuat dari ijuk yang dipintal pada bagian ujung biasanya ditempeli benda keras seperti tanduk rusak atau kulit kerbau.
Peo: tiang kayu yang bercabang dua adalah sebuah monumen yang melambangkan kesatuan adat masyarakat Nagekeo.
Ine-ine: para perempuan atau para ibu (bahasa Nagekeo).
Kaba: kerbau (bahasa Mau, Nagekeo).
Etu: sebuah tinju tradisional yang berasal dari masyarakat Nagekeo dan Soa. Biasanya dilakukan pada bulan juni dan juli.
Kepo: alat tinju yang dibuat dari ijuk yang dipintal pada bagian ujung biasanya ditempeli benda keras seperti tanduk rusak atau kulit kerbau.
Peo: tiang kayu yang bercabang dua adalah sebuah monumen yang melambangkan kesatuan adat masyarakat Nagekeo.
Ine-ine: para perempuan atau para ibu (bahasa Nagekeo).
Kaba: kerbau (bahasa Mau, Nagekeo).



Mantap azi. Ringan dan kena. Hahah
BalasHapusHehe kae...
HapusSesekali kita mesti masuk loka etu
Rasakan dia punya sensasi
Itu bahaya azi. A ma weca keda ke. Haha kita rasakan saja atmosfer di sekitar loka. Ngeri
HapusMantap🥰
BalasHapus