Kartini Hari Ini || Cerpen Hyan Godho
Hari ini, Kartini terik sekali.
Nongol di mana-mana. Di media sosial apalagi, banjir cuk.
Ucapannya dahsyat, kelakuannya bejat.
Hehe..
Masalah klasik..
***
Saya hampir lupa, tanggal ini Raden Ajeng lahir. Kakek tiba-tiba saja, melabrak saya dengan pertanyaan yang rada ilmiah. Tumben.
“Apa yang paling kau sukai dari perempuan itu. Buku atau lagunya?”
“saya menyukai gebrakannya..”
“Hmm tidak nyambung!”
Kakek menghabiskan kopinya, kemudian duduk malas. Ia tidak puas dengan jawaban saya yang keluar dari kotak. Ia melihat ke tempat lain. Ia kaget mendapati perempuan itu masih di dapur saja.
***
“Saya tidak harus terpaku pada batasan-batasan kakek, kan? Masih ada peluang lain.”
“Tapi kakek menawarkan dua hal saja. Tidak lebih!” Anak muda suka sekali merembes. Kakek bergumam kecil.
Perempuan itu masih saja di dapur.
Kakek merasa risih, percakapan kami dibuntuti. Ia tidak mau ada perempuan yang menguntiti pembicaraan kami.
“Mulut perempuan, lebih cepat dari angin, cuk. Hati-hati!
***
Perempuan itu tetap begitu, dengan perkakas-perkakasnya.
Ia sedang menanak nasi. Hari ini, ia harus mengenyangkan perut anak-anaknya, perut suaminya. Perut keluarganya.Dapur ditatahnya dengan sebegitu molek. Indah mempesona.
“Perempuan itu jantung, kek. Dapur tidak berdenyut tanpa seorang perempuan..”
***
Kakek masih trauma dengan mantannya yang tempo dulu. Cantik memang.
Lahiriahnya saja. Batiniahnya tidak.
Ketika kakek sukses, ia dikatain yang bukan-bukan oleh perempuan itu.
“Sukses tidak selalu bahagia.
Ada lukanya.
Lebih perih bahkan..”
***
“Kelihatan, perempuan itu tidak menguntiti kita ya cuk?”
“Lah memang! Orang itu bibi Lena. Bibi sedang memasak untuk kita”
“Yaelah.. Baiklah”
***
“Kalau kau menyukai gebrakannya. Apakah ada pengaruh setelah perempuan itu pergi?” Kakek kembali dengan pertanyaan tadi.
“Banyaklah kek. ’92, Susi Susanti bentang Merah-Putih di Barcelona. 2001, Mega gendong Indonesia. 2014-2019 kemarin, Pudjiastuti perempuan tidak sekolah, tetapi menjadi ratu laut Indonesia. Ia tenggelamkan kapal-kapal asing. Atau jangan jauh-jauh, kek. Kemarin Dian Sorowea menerima penghargaan AMI untuk karya produksi lagu berbahasa daerah terbaik.”
“Perempuan banyak yang hebat, kek. Itu, Mary, anak Ma Irma menang lomba menulis. Hebat, bukan!”.
Kakek terbelalak mendengar jawaban saya. Ia diam saja. Ia mengambil handphonenya. Dengan kalem, ia tunjukan kepada saya.
“Kau kenal Ratna Sarumpaet?” Kakek mulai berbicara.
“Kau kenal Ratu Atut? Kau kenal Vanesa Angel? Kakek bertanya dengan api. Menyala-nyala. Dahinya mengkerut lipat. Ia mengeluarkan bara dari mulutnya dengan bisa. Saya menjadi pucat-pasi.
“Atau yang dekat-dekat saja, kau kenal Monika?”
“haha...” pertanyaan kakek yang terakhir membuat perut saya geli berkali-kali. Gelakan saya yang terbahak pecah pagi itu.
“Dia itu yang dari Aimere, kan?”
“Orang-orang seperti mereka tidak pantas di Indonesia, cuk. Memalukan!”
***
Bibi Lena mendengar percakapan dua laki-laki itu. Ia tidak gubris. Hanya batuk-batuk kecil. Ia lebih giat lagi bekerja, menyalakan api. Sumbuh kompor yang mulai padam, ia nyalakan. Semakin dua laki-laki itu memperguncingkan perempuan sebagai ini-itu, ia semakin terpicu untuk fight. Geliat kartininya membeludak. Perempuan memang cerewet, tapi tidak pandai berbicara. Ketika nasi-sayur enak, nah itulah bentuk nyata mereka berbicara. Mereka berbicara pakai hati. Selebihnya bertindak.
Semua perkara mereka bungkus di peti kecil bernama hati. Seperti Maria saja.
***
Kakek tiba-tiba ingin meminum kopinya, tapi sayang sudah habis. Ia memang selalu begitu, kalau tema pembicaraannya bagus, ia bisa saja minum bergelas-gelas.
“Perempuan hari ini itu ampas, cuk.” Kakek mengaduk-aduk kopinya yang sudah ampas.
“Tidak bermanfaat.”
“Lah kok. Begitu kek?”
***
Kakek beranjak dari kursinya, ketika tukang pos, pagi-pagi sekali mengantar koran hari ini. ia bergegas ke kamarnya, dan kunci. Saya membereskan cangkir kopi kakek, dan bibi Lena tetap dengan diamnya. Di kamar, kakek tidak tenang. Kusuk-kasak yang mencurigakan. Saya mendapati koran itu dan kaget. “Kartini hari ini diperkosa. Seorang kakek tega mencabuli cecenya sendiri”.
Saya teringat Mary. Kemudian di kamar kakek, temali mencekik lehernya..
2020.



Nak hian kmu krratif...semoga kartini hari ini.... ttp sprt kaetini yg dulu di prjuangkn bukan di sia siakan, untaian kata2mu ibarat seonggok emas yg di dambakn oleh insan2 yg trsisih.....semoga karyamu menjadi motifasi batin bg yg membutuhkan
BalasHapusSiap2.. Terima kasih banyak sudah berkunjung
Hapus