Alorawe Seperti Deja Vu || Avontur
ALORAWE
SEPERTI DEJA VU
Embun jatuh ke mata kami, ketika melewati hamparan luas padang Alorawe. Siang yang bara terhempas jatuh satu-satu. Mata kami adem menyaksikan live bagaimana savana yang bugil berkawinan mesra dengan hembusan angin sore. Alorawe, senja itu seperti sebuah paradise. Ia adalah sekawanan surga yang malu-malu bersembunyi di lembah Dhereisa.
______________HG______________
17
Mei 2020, itu hari minggu yang bolong. Terik matahari panas sekali membakar
bumi Boawae. Ibu Rosadalima mengajak kami jalan-jalan ke Alorawe, ala-ala Master, sambil berbuat baik. Setelah
mengikuti perayaan ekaristi secara online
via KOMSOS FX. Boawae, kami bersembilan orang pun melucur. Alorawe yang
adem menyabut kami dengan sukacita. Senyumannya masih orisinal.
Sudah
kali yang kedua saya bermain-main ke Alorawe. Waktu itu saya masih kelas 3 Sekolah
Menengah Partama, ketika mengikuti pesta Hari Raya Kristus Raja, dan itu sangat memorable. Kami berjalan kaki dari
puncak Dhereisa sampai ke lembah, sesuatu yang anti mainstream. Sembari melewati pepohonan dan semak-semak yang
belukar, entah ada hantu, entah ada ular, kami menerobosnya dengan jiwa yang laki,
kami memegang akar-akar kekayu dan ranting-ranting pepohonan, dengan maksud
agar tersendat-sendat sampai ke lembah. Dan saat-saat begitu, satu kali Bapa
Kami dan tiga kali Salam Maria adalah mantra paling ampuh, komat-kamit, merapal
kecil-kecil dari dalam hati.
Perjalanan
ke Alorawe masih dangdutan waktu itu (sampai sekarang sih), lenting-lenting
seperti orang sakit kejiwaan. Makanya bus yang kami tumpang berhenti sampai di
puncak saja. Om sopir tidak berani melewati perjalanan yang demikian, belum
lagi tingkat kecuraman menuju lembah Alorawe begitu tajam dan sengit. It so panic!
Kali
kedua masih baik, jalanan ke Alorawe mulai agak baik. Rabatan di bagian-bagian
yang rusak membantu para pejalan dan pelancong melewati perjalanan itu agak enjoy, bisa sambil siul-siul atau
melantunkan lagu-lagu lawas. Tapi sayang, Aesesa kadang-kadang suka ngambek.
Sungai yang mengalir penuh romantika itu, di musim penghujan adalah petaka. Ada
saja korban yang terbawa arus ganas itu. Aesesa yang manis, bengis sekali di
musim dingin. Kekayu-kekayu rapuh yang
adalah jembatan emergency itu,
kerapkali layu digeluduk Aesesa. Orang-orang Alorawe amat mendambakan sebuah
jembatan yang lebih molek dan seksi. (Hehe, dan itu tentu saja tidak meminta
kepada rumput yang berdansa).
***
Siang itu, Kami melaju melawan arah matahari yang semakin ke barat. Kami tidak berani mencegatnya, takut bayangan kami sirna. Sambil melewati jalanan-jalanan yang berirama, letih kami yang sangat terbayar tuntas dengan landscape indah, dengan spot-spot bugar menuju Alorawe. View alamnya yang lugu, amat menyihir radar visual kami. Mata hati kami takluk dengan pemandangan-pemandangan itu.
Alorawe adalah sebuah pedesaan mungil yang terletak di sebelah utara Boawae, Kabupaten Nagekeo. Kurang-lebih ada 469 penduduk yang tinggal di desa tersebut. Seperti kuali, Alorawe melingkar cantik dikelilingi perbukitan yang asri.
Gbr: DokPri
Di lembah, Aesesa yang cool menyambut kami santun. Kami rileks menyapa Aesesa, tapi alurnya yang dingin, terus mengalir akrab menyisiri bebatuan-bebatuan cadas yang cerdas menyimpan rahasia. Anak-anak sudah ramai di pesisir. Mereka suka menaklukan rindu dengan air sungai. Berenang hingga basah-basah. Baju yang kuyub pun bisa kerontang di tubuh. Orang Alorawe itu hebat-hebat. Mereka pandai merayu alam. Enteng saja bagi mereka untuk membuat alam jatuh cinta.Tiba
di sebuah rumah, kami disambut baik oleh tuan rumah. Hostpitalitas yang luar
biasa. Tidak ribet-ribet seperti di kota. Pada sebuah bale-bale, kami duduk santai
sambil menyeruput kopi dengan donat-donat yang bulat. Nona-nona Alorawe, mereka
berdandan orisinal, cantik sekali. Menghidangi kami minuman-minuman yang segar.
(Saya teringat Lindry, teman saya. Aidih..).
Sebelum
kembali, seperti orang-orang kebanyakan, kami jua berprisnsip begini, “yang
fana itu mengunjungi, tapi berswafoto itu abadi”. Kami pun memotret diri kami
dengan mata nikon. Indah sekali. Kolaborasi nikon yang canggih dengan alam yang
seksi, menghasilkan foto-foto yang aduhai, amat instragamable. Terima kasih Alorawe, sepotong rindu selalu ada
untukmu. Apalagi cinta, berkeping-keping banyaknya.
Kami
kembali, tepat matahari bermandikan senja. Pada sebuah padang, sabana-sabana
yang cantik bercumbuan manja dengan angin petang berhembus menuju Alorawe yang
permai. Indah sekali, surga seperti berjatuhan senja itu. Seperti deja vu.
(Weko, kau bhia ta seni-seni le. Kau tahu
deja vu itu apa? Tahu lagi! Cari sendiri di GOOGLE. Tapi hati-hati, google tu
janda! Aia...).
Juni, 2020.






Luar biasa le ka'e. Jalan certianya semakin ke bawah semakin semangat untuk membaca. Hehe
BalasHapusSalam Hormat🙏
Thanks byk saudara
Hapus