Ebulobo Malu-Malu, Pipinya Kami Cubit ||Avontur

 

Ebulobo Malu-Malu, Pipinya Kami Cubit!



Di puncak Ebulobo, kami menyaksikan sendiri bagaimana matahari pagi-pagi sekali bugil di depan mata kami. Ia telanjang tanpa malu-malu. Polos sekali. Bias-bias cahayanya genit-genitan.

Kami dan dingin saling  berpelukan, pagi itu. Biar kabut-kabut nakal berdansa, sunrise yang kece tetap berbinar manja.

HG

Gbr: DokPri

 

Entah kenapa kami doyan sekali dengan Ebulobo. Sejak SMA bahkan, kami sudah ada rencana untuk tracking. Tapi gagal terus. Teman-teman selalu saja ada kesibukannya masing-masing. Tapi kali ini kami ngotot habis-habisan. Ebulobo harus kami takluk. Biar sibuk-sibuk, ebulobo mesti remuk! Terlalu sekali.

Juni 2020, itu Boawae sedang seksi-seksinya. Hujan jarang tampil. Cuaca tidak sampai gigil. Matahari pun amat terampil mengedipkan cahayanya. Itu atmosfer yang flamboyan. Kami getol sekali untuk menyetubuhi Ebulobo. Walaupun covid-19 sedang melanda, waktu itu tempat-tempat wisata sudah kembali dibuka, sejak semuanya di-lockdown sedari medio April. Awal juni, bunga mekar kembali. Orang-orang sudah kembali beraktivitas seperti biasanya. Dengan tetap menghidupkan protokol kesehatan, sebagaimana yang ditetapkan oleh  Gugus Tugas covid-19, kami menjinakkan Ebulobo dengan rindu paling dendang.

Saya teringat Tasuko Sato (Pada Buku I Remember Flores), seorang kapten Jepang  yang menduduki Pulau Bunga pada tahun 1943, waktu ia mengunjungi raja Boawae, ia melihat gunung Ebulobo menjulang cantik dan saat itu juga ia kasmaran pada Ebulobo. Ia membaptis gunung Ebulobo sebagai “Fuji”-nya Flores. “Saya mengatakan kepada Anda, jika Anda ingin melihat Fujiyama lebih dekat, silahkan datang ke Flores, tepatnya di Boawae”, demikian status New Tourism Territory pada beranda Facebook beberapa tahun lalu.

Kami memulai pendakian dari Mulakoli, sebuah pedesaan yang berdiri tepat di bawah kaki gunung. Malam itu dingin sekali. Kami tiba di rumah penginapan, waktu jarum pukul 20.00. Angin Ebulobo amat rentan, saat-saat begitu. Kami disediakan kopi paling hangat, kemudian duduk melingkar. Kami mengusir dingin dengan sepiring ubi kayu bakar. Cerita-cerita konyol turut kami cabut dari akar. Itu malam yang penuh ketar-ketir. Adrenalin kami mencair.

Segala tetek-bengek, pernak-pernik pendakian sudah kami siapkan dari jauh-jauh hari. Fisik yang prima, stamina yang stabil, Jaket, topi dingin, kaos tangan, masker, hand sanitizer, backpack, makanan yang secukupnya, dan air tentunya kami organize rapih pada hari-hari sebelumnya. That’s a must thing yang perlu disiapkan sebelum pendakian. 2124 meter dari permukaan laut, itu sebuah perjalanan yang tidak dekat. Ebulobo, gunung yang tidak suka berkompromi. Ia menanjak terjal.  Bebatuan-bebatuan tajam tegak di mana-mana. Mendaki Ebulobo, kita bisa saja tertatih-tatih seperti anak bayi. Sedikit-sedikit merengek (Tanya J).

Sepintas kita lihat enteng saja, tapi sebetulnya ia gunung yang riskan. Ada syarat-syarat tertentu yang mesti kita penuhi. Jika tidak, ia berontak! Dan Ebulobo kalau ngambek, jelek sekali. Gulita seperti di negeri anta-berantah.

Ia amat mencintai silentium. Itu makanya kalau mendaki Ebulobo tidak boleh kusuk-kasak, ribut. Kita mendaki dengan penghayatan yang penuh. Seperti jalan salib. Hanya bedanya sampai di puncak, kita tidak ditanggalkan pakaian, dipaku kemudian disalibkan, sebaliknya kita akan menyaksikan matahari ‘pecah’ di depan mata kita, mereka menari, cengar-cengir seperti anak-anak baru gede. Awan-awan bergelora, putih seperti bulu anak domba. Momen seperti itu dapat kita nikmati dalam situasi yang kalem. Kalau kita ribut maka langit pun kerut. Kabut-kabut nakal akan melingkar tidak tahu diri di antara matahari dan gunung. Dingin akan semakin gigil. Dan itu hal yang amat  menyebalkan!

“Pai, kamu kalau naik su sampai di pos kedua, berarti itu kamu harus naik terus. Ti boleh turun lagi. Biar bagaimana-bagaimana, kamu pu kaki mesti cium puncak. Kalau kamu turun, berarti langit runtuh!”

Ini kalimat amat bombardir di kuping. Teman saya sempat kehabisan powernya ketika tiba di pos kedua. Hanya karena kalimat yang satu ini terus mengiang, biar layu-layu, kakinya terus ia kayuh. “Aman eja, su dekat ni. Kalau ada cemara, berarti su hampir tu”,  teman yang lain terus menguatkan. Tapi nyatanya, kian ada cemara, kian puncak ebulobo semakin entah.


                   Gbr: DokPri


Kami mulai senang, ketika tiba di bebatuan-bebatuan gunung. Karena itu pemandangan yang amat hebat. Bintang-gemintang seperti lautan, genit-genitan di atas kepala kami. Kami melihat Boawae cantik sekali, saat itu. Cahayanya pendar-pendir nakal. Seperti penyair paling manja, Kidung Agung, saya boleh menggambarnya serupa. “Sebelum angin senja berhembus dan bayang-bayang menghilang, aku ingin pergi ke gunung mur dan ke bukit kemenyan. Engkau cantik sekali, manisku, tak ada cacat cela padamu”(Kid 4:6-7).

Ebulobo, saya ingat betul, ketika kaki kami rapuh merangkak pada bebatuan-bebatuan lancip, itu matahari sudah membuka pakaiannya. Ia mabuk asmara di depan mata kami. Sempat bebatuan-bebatuan itu bergulir licin, akibat pemandangan tidak berdosa itu. Birahi kami untuk sampai ke puncak kian membara. Kami ingin melihat secara menyeluruh, bagaimana matahari kalau bugil. Semakin ke puncak, pendakian semakin menanjak. Batu-batu gunung semakin ke atas, semakin besar. Betapa indah langkah-langkah itu, lengkung seperti perhiasan. Matahari biar panas-panas, kalau dia telanjang waktu fajar, aduh mama! Siapakah dia seperti cawan yang bulat, yang tak kekurangan anggur campur. Nun aduhai!

Kami tiba di puncak, tepat jam 05.00. Ebulobo malu-malu, pipinya kami cubit!

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer